Jumat, 23 September 2011

CUPLIKAN FILSAFAT

Jika anda memiliki akun twitter dan anda sedang membukanya, So Please klik link:


Jika anda sedang membuka akun fb dan ingin mengirim alamat posting ini kedinding anda, silahkan klik jempol dibawah:




Setiap tempat ataupun individu memiliki falsafah hidupnya sendiri. Baik penggalian secara intens maupun ketidaksadaran dari bebuah perenungannya akan hidup. Dan sebagaimana dari asal katanya “philosophia” dalam bahasa Yunani, tidak lain dari penggalan “philia = persahabatan, cinta dan sejenisnya” serta “sophia = kebijaksanaan”. Dan jika diartikan secara harfiah, maka filsafat berarti “pecinta kebijaksanaan”.

Filsafat secara garis besar bertujuan untuk memahami bagaimana manusia dan menangkap problema kehidupan zaman supaya kehidupan manusia berjalan dan terarah lebih baik. Memahami manusia bukan dengan melihat bagaimana status sosialnya, keturunan, akademis ataupun berbagai mebel-embel lain, melainkan bagaimana nilai-nilai etika atau boleh dikatakan sebuah kualitas moral pada manusia itu sendiri.

Faktor pendukung supaya filsafat berjalan lebih baik disebabkan karena adanya budaya berpikir merdeka dari sebuah komunitas, bangsa dalam tatanan kehidupan masyarakat. Maka dengan begitu setiap pikiran akan mendatangkan anti-tesis dan penolakan dari sebuah anti-tesis tersebut akan menciptakan anti-tesis baru serta anti tesis yang baru tersebut telah menjadi sintesis baru lagi. Dan begitulah filsafat menanggapi zamannya sampai dunia ini tak ada lagi.

Karena fisafat tak pernah tuntas mencari kebijaksanaan pada manusia, maka filsafat sering diartikan sebagai teka-teki. Atau bolehlah sering dilontarkan dengan lelucon, “mana dulu ayam daripada telur?” dan guyonan ini tentu sebuah pikiran dari keragu-raguan kepada filsafat. Dan filsafat itu sendiri lahir karena keragu-raguan itu sendiri. Seperti Rene Descartes (1596—1650) yang menjadi tonggak Renaissans, juga sebagai bapak filsafat modern menyatakan bahwa “hanya ada suatu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”. Jika menyaksikan sesuatu, saya “menyadari” bahwa saya menyaksikan adanya. Maka dengan keragu-raguan itulah kenyataan “ada”nya saya dinyatakan ada. Dan sebuah norma Descartes tentang “saya berpikir maka karena itulah saya ada” telah menentukan kebenaran.

Namun bagaimanapun, dunia terus berkembang dan probelma kemanusiaan terus bertambah. Dan rasonalis (berpijak ke akal) Descartes pun (ada pun tokoh-tokoh lain seperti Baruch Spinoza dan C. Jottfried Wilhelm Libniz) mendapat kecamanan oleh generasi sesudahnya (sebaiknya hal ini kita sebut penyempurnaan) yang lebih berpatokan kepada pengalaman (empiris). Yang mana sebuah pengetahuan tercipta karena adanya sebuah interaksi dari pengalaman. Dengan istilah sederhananya, pengalamanlah yang menciptakan pengetahuan. Di antara tokoh empiris tersebut sebutlah Thomas Hobbes, Jhon Locke (1632—1704) dan David Hume (1711—1776) yang berkembang di Inggris. Dan terus sesudahnya filosof-filosof melakukan penyempurnaan dengan penemuan metode akan naturalis, materialis, idealis, eksistensialis, fenomenologi dan sampai kepada dunia saat kita sekarang yaitu strukturalis dan pragmatis. Di antara nama-nama strukturalis tersebut tidak lain Levi-Strauss (lahir 1903) Michel Foucault (lahir 1926) dan pragmatis dipelopori oleh Charles Sanders Peirce, William James dan Jhon Dewey yang berperan dalam penganalisaan bahasa. Serta tentang metode pemahaman akan dunia digital, virtual dan sebagainya yang dipelopori oleh Jean Paul Baudrillard dan sedang berlangsung pada abad sekarang, tentu belum bisa ditarik tesis baru. Karena filsafat tersebut masih berlangsung dalam zamannya dan belum menjadi sejarah.

Meski demikian halnya, sejarah filsafat tentu mengalami masa-masa kegemilangan dan kekelaman. Dan tentu juga memiliki banyak cabang sesuai tuntutan zaman dan ataupun minat dari para folosof itu sendiri. Baik secara kajian filsafat ilmu dan etika. Dan tak jarang pula filosof ambil bagian dalam filsafat yang terjun langsung dalam kumpulan manusia seperi Albert camus yang seorang penulis dan Jean Paul Sartre serta Karl Marx yang berperan dalam politik. Dan politik marxis pun telah menginspirasi Friedrich Engels, Lenin, Stalin dan Mao Tse Tung serta telah menciptakan pembantaian manusia terbesar sepanjang abad.

Kekelaman filsafat Barat (dalam hal ini Eropa sebagai patokan karena lebih dokumentatif) di awali dari Zaman Patristik dan Skolatik. Yaitu sebuah kesuraman atau sering dinamakan Abad Pertengahan.

Adapun dari klasifikasi sejarah filsafat di awali dari Zaman Yunani Kuno (klasik) dalam hal ini filsafat pra-sokrates yang masih bergulat dengan pertanyaan pada rahasia alam. Di antaranya Thales (lebih kurang 600 SM), Anaximemander (610—540 SM), Anaximenes (585—525 SM), Pytagoras (500 SM), Herakleitos (500 SM), Permenides (515—440 SM).

Pada Zaman Klasik di antaranya Socrates (470—400 SM), Plato (428—348) dan Aristoteles (384—322 SM). Dan pada masa Helenis, saat Iskandar Agung mendirikan kerajaan raksasa yang membentang dari India Barat sampai Yunani dan Mesir dengan kegemilangan budaya yang disebut helenis dan berpusat di Athena (Yunani), Alexandria (Mesir) dan Antiochia (Syria). Aliran yang menonjol pada saat itu di antaranya: Stoisis (filsuf tong) di pelopori oleh Zeno (333—262 SM), Epikuris oleh Epikuros (341—270 SM) serta Neo-platonis oleh Plotinus (205—270 SM)

Lalu pada Zaman Patristik dan Skolastik (Bapak-bapak Gereja). Dan ini terbagi dua, di antaranya Patristik Timur (Yunani) dan Patristik Latin (Patristik Barat). Ada pun nama-nama tersebut dipelopori oleh Clemens (150—215), Gregorios (330-390), Basillus (330—379) Dionysios Areopagita ( 500). Dan Patristik Latin (Barat) di antaranya, Hilarius (315—367), Ambrosius (339—397) Hieranymus (347—420) dan Agustinus (354—430)

Namun pada Zaman Patristik dan Skolastik ini di Eropa (atau abad pertengahan), filsafat telah mengalami kemajuan pesat di Timur Tengah. Dan dilihat dari sejarahnya tentang penaklukan daerah-daerah kekuasaan islam yang sampai ke Yunani dan Italia Selatan serta Andalusia (Spanyol) yang di awali abad ke delapan, maka karya-karya Aristotels telah menciptakan peradaban terbesar islam sepanjang sejarah. Segala disiplin ilmu berkembang, mulai dari kedokteran, botani, astronomi, matematika, fisika, politik, figh, dan lain-lain karena keberanian dan keindependenan berpikir yang tidak terlembaga dalam instintusi agama. Dan Ibnu Rusyd filosof terbesar dan terakhir yang dimiliki umat islam. Di Eropa dengan nama populer Averroes. Dan karena keberaniannya tersebut, telah menginspirasi masyarakat Eropa pada abad 13 dan 14 dalam melakukan hal yang sama kepada gereja.

Sebelum memasuki masa Renaisance atau di pengujung abad pertengahan, Thomas Aquinas (1225—1274), Bonaventure (1217—1274), Yohanes Duns Scotus (1266—1308) adalah fiosof-filosof gereja terakhir abad pertengahan. Karena filsafat diajarkan di sekolah-sekolah biara dan memakai kurikulum internasional. Lalu filosof-filosof yang di luar gereja pada zaman ini seperti Nicollo Macchievelli (1469), Thomas Hobbes, Thomas More (1478—1535) dan Francis Bacon (1561—1626) menegaskan bahwa pengetahuan bukan berasal dari kitab suci, ajaran agama ataupun dari penguasa melainkan dari diri sendiri. Dan Francis Bacon pada akhir-akhir ini tentang metode filsafat ilmu dari buah pikirannya sangat dibutuhkan oleh berbagai disiplin ilmu. Ya, buah pikiran yang berasal dari lima ratus tahun yang lalu. Namun baru sekarang bisa diterapkan. Lalu soal Ibnu Rusyd (Averroes) yang ditinggalkan saudaranya sesama muslim di lingkungannya karena dianggap ateis, pada abad terakhir sekarang umat muslim telah merangkulnya kembali. Padahal Ibnu Rusyd menjadi motivator terbesar dalam kebangkitan zaman renaissance di Eropa.

Sumber :Payakumbuh.com
Sumber: http://nurmanali.blogspot.com/

1 komentar: