Rabu, 05 Oktober 2011

Cerita Panas: Dua Pembantu Wanita Di Modernland Jalan Raya Taman Golf Blok DG Tewas Diperkosa Dalam Keadaan Telanjang

Jika anda memiliki akun twitter dan anda sedang membukanya, So Please klik link:


Jika anda sedang membuka akun fb dan ingin mengirim alamat posting ini kedinding anda, silahkan klik jempol dibawah:




Dua wanita pembantu rumah tangga ditemukan tewas di garasi rumah majikan di Blok DG Perumahan Modernland, Kota Tangerang, Sabtu (16/4) malam. Salah seorang di antaranya dalam keadaan setengah bugil dan diduga diperkosa pelaku.

Tewasnya kedua korban menghebohkan warga sekitar maupun penghuni di kompleks perumahan mewah tersebut. Pasalnya, keamaan di tempat itu sangat ketat dan tidak sembarang orang bisa masuk.
Kedua korban Maryati, 25, dan Sarni, 24, meregang nyawa dengan kondisi tangan mereka terikat. Di kepala dan tubuh korban ada luka bekas pukulan benda tumpul. Belum diketahui kerugian yang dialami pemilik rumah, Holly.
Pembunuhan sadis ini diketahui sekitar Pk.17.30. Saat itu, adik kandung Holly, Meylani bermaksud mengunjungi kediaman kakaknya. Setibanya di rumah tersebut, ia memberi klakson mobil, namun tidak juga dibukakan pintu.
Karena curiga, Meylani turun dari mobil dan mengecek ke pagar rumah. Ternyata didapati pintu garasi dalam keadaan terbuka. Wanita ini pun masuk ke rumah Holly. Setibanya di garasi, Meylani kaget melihat kedua pembantu kakaknya sudah tidak bernyawa di garasi.
Meylani pun melaporkan kasus ini ke kakaknya dan meneruskan ke satpam perumahan. Selanjutnya petugas keamanan melapor ke Polres Metro Tangerang. Petugas langsung melakukan olah TKP untuk menyelidiki pembunuhan sadis tersebut.
Pembunuhan sadis terjadi di Kota Tangerang pada akhir pekan, Sabtu (16/4) malam. Sarni (22) dan Maryani (25), pembantu di rumah Kholiwyio—seorang pemborong—ditemukan tewas mengenaskan di garasi rumah megah, dua lantai, dan bercat putih di kawasan perumahan mewah Modernland, Jalan Raya Taman Golf Blok DG 2 Nomor 118 RT 01 RW 14, Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, itu.
Di kawasan yang sepi dari arus lalu lintas itu, kedua pembantu tersebut ditemukan tewas dengan kedua tangan terikat ke belakang dan luka bocor di kepala akibat pukulan benda keras yang diduga menggunakan tabung gas berukuran 3 kilogram. Dugaan itu dikuatkan dengan bukti, tak jauh dari tubuh korban terdapat sebuah tabung gas berwarna hijau muda yang ada bercak darah.
Tak hanya pembunuhan, diduga dalam aksi itu juga terjadi pemerkosaan terhadap salah satu korban. Salah satu korban ditemukan dalam posisi setengah telanjang. Selain itu, polisi juga menemukan sebuah kondom bekas dipakai.
”Olah TKP (tempat kejadian perkara) sudah dilakukan. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk pemilik rumah dan orang dari pihak penyalur tenaga pembantu di Lampung yang mengirim kedua korban ke rumah tersebut,” kata Kepala Reserse dan Kriminal Polrestro Tangerang Kota Ajun Komisaris Besar Sumanto di Tangerang, Minggu siang.
Dari hasil olah TKP dan keterangan sejumlah saksi, lanjut Sumanto, peristiwa tersebut diduga merupakan pembunuhan dan pemerkosaan, bukan seperti yang diduga sebelumnya, yaitu perampokan disertai kekerasan.
”Kondisi lemari di kamar pemilik rumah terbuka, tetapi barang di dalam tak diacak-acak. Pemilik rumah mengatakan belum ada barang hilang. Jadi, sementara, peristiwa ini diduga pembunuhan dan pemerkosaan,” kata Sumanto.
Kepala Polrestro Tangerang Kota Komisaris Besar Tavip Julianto yang juga mendatangi TKP pada Sabtu malam menjelaskan bahwa kejadian tersebut masih terus didalami dan diselidiki.
”Kami masih belum tahu siapa pelakunya. Hasil dari olah TKP dan keterangan saksi masih dievaluasi untuk mencari siapa pelakunya,” kata Tavip.
Kejadian itu berawal ketika pemilik rumah pergi sekitar pukul 15.00. Saat itu di rumah hanya ada dua pembantu dan tukang yang sedang memperbaiki rumah yang bocor.
Peristiwa pembunuhan tersebut baru diketahui ketika adik salah satu korban melapor ke polisi.
Setelah sampai di lokasi, petugas langsung memeriksa TKP dan mendapati Sarni dan Maryani tewas dengan kondisi mengenaskan. Polisi juga menemukan tiga buah kamar yang acak-acakan habis dibongkar.
Polisi juga mengerahkan anjing pelacak untuk memeriksa seisi rumah dan lingkungan sekitar.
Pada Minggu siang garis polisi masih terpasang di sepanjang rumah korban. Warga sekitar mulai tampak berdatangan melihat rumah korban.
Hendrik (49), salah seorang warga Jalan Pulau Puteri Blok O VI Nomor 2—masih dalam kawasan itu—mengatakan bahwa dirinya sering melihat pacar pembantu tersebut masuk rumah setelah majikannya pergi.
”Apalagi, pemilik rumah sering bepergian ke luar kota sampai berhari-hari. Saya sering melihat, pembantunya suka membawa pacarnya masuk ke rumah,” kata Hendrik, pemilik awal rumah itu sebelum dijual kepada Kholiwyio.
Kasus ini sudah sepantasnya bisa mengingatkan kita semua bahwa kejahatan setiap saat bisa terjadi jika tidak waspada
Sabtu (16/4) malam terjadi perkosaan dan pembunuhan terhadap Sarni dan Maryani, pembantu rumah tangga di garasi sebuah rumah di Perumahan Modernland, Jalan Raya Taman Golf Blok DG 2 Nomor 118, RT 01 RW 14, Kelurahan Poris Plawad, Cipondoh, Kota Tangerang. Ini jadi pengingat akan tingginya angka kejahatan di kawasan penyangga Jakarta.
Polda Metro Jaya mencatat, Tangerang menjadi kawasan paling rawan dengan 284 kasus pada Januari dan 272 kasus pada Februari 2011. Peringkat kedua diduduki secara bergantian oleh kawasan Jakarta Barat (280 kasus pada bulan Januari dan 158 kasus pada bulan Februari) dan Jakarta Timur (274 kasus pada Januari dan 217 kasus pada Februari).
Di tingkat yang lebih mikro, pada periode yang sama, di lingkungan Polsek Metro tercatat, di Polsek Metro Cakung, Jakarta Timur, terdapat 39 laporan kejahatan yang masuk; di Polsek Metro Taman Sari, Jakarta Barat, 28 laporan; di Polsek Metro Kelapa Gading, Jakarta Utara, 26 laporan; dan di Polsek Metro Kemayoran, Jakarta Pusat, 21 laporan.
Di Pondok Aren, Tangerang Selatan, 45 laporan; Polsek Metro Cimanggis, Depok, 26 laporan; dan Polsek Metro Babelan, Bekasi, 18 laporan.
Teori makan bubur
Pada sebuah diskusi di Rumah Aspirasi Cisanggiri, Jakarta Selatan, para perwira polisi menengah dan kriminolog menyebut, kejahatan yang terjadi di kawasan penyangga Jakarta adalah langkah awal para penjahat meniti ”karier”. Mereka menyebutnya sebagai teori makan bubur ayam panas.
Sendok suapan pertama, kedua, dan ketiga berasal dari pinggiran bubur panas seperti saat para pemain baru kejahatan beraksi di pinggiran Jakarta. Mereka adalah kaum urban pengangguran yang umumnya berusia 20-40 tahun.
Di pinggiran Jakarta, mereka hidup bersama mengelompok berdasar asal daerah atau etnis.
Mereka mempelajari pola warga mencari nafkah. Pagi berangkat ke Jakarta, sore atau malam baru kembali ke rumah. Mereka rata-rata meninggalkan rumah selama 12 jam. Rumah hanya dihuni pembantu, orang lanjut usia, dan anak-anak.
Para pelaku kejahatan sudah membaca rapuhnya pola pengamanan lingkungan dan terbatasnya sumber daya polisi di kawasan penyangga Jakarta.
Pengamanan lingkungan di pinggiran rapuh karena warga kurang memberi perhatian terhadap keamanan lingkungan. Maklum, sebagian besar waktu mereka habis untuk bekerja. Selain itu, kohesi sosial antara warga pendatang dan warga penghuni lama juga lemah.
Untuk mengenali sasaran, para pelaku juga terkadang memacari para pembantu rumah tangga agar bisa lebih leluasa masuk menyelidiki rumah sasaran. Oleh karena itu, dalam kasus perampokan, pembunuhan, dan perkosaan di sebuah rumah di Cipondoh itu, kesaksian tetangga tentang mereka yang dekat dan pernah atau masih menjadi pacar kedua pembantu yang tewas layak diselidik polisi.
Sebagai pemula, penjahat yang melakukan kejahatan di kawasan pinggiran umumnya lebih brutal dan ceroboh, seperti ditunjukkan pelaku dalam kasus di Cipondoh tadi.
Mengapa mereka merampok dengan membunuh dan memerkosa? Apakah sepadan antara tindakan mereka dan ganjaran yang bakal mereka terima?
Namun, mereka akan mengalami pembelajaran kejahatan sehingga tidak lagi bersikap ceroboh dan emosional. Mereka akan belajar dari kelompok kerja sama dan kelompok pesaing sebelum beraksi di Jakarta.
Polmas
Untuk menghambat berdiasporanya kelompok penjahat di kawasan penyangga, pemerintah setempat, polisi, dan warga harus aktif membangun kohesi sosial lingkungan, membangun polisi masyarakat (polmas), disertai upaya pembangunan infrastruktur pengamanan lingkungan.
Menurut kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso, polmas di kawasan penyangga Jakarta masih sangat lemah. Mereka jarang diberi pendampingan oleh polisi dalam kegiatan ini.
”Saya kira Kapolda Metro bisa menjadikan kawasan Tangerang dan Jakarta Barat sebagai kawasan proyek percontohan polmas,” kata Kisnu dalam diskusi di Cisanggiri itu, Minggu (17/4)
Semoga kejadian ini tidak terulang dan jangan sampai terulang lagi.
Sumber: http://nurmanali.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar