Rabu, 05 Oktober 2011

Pengertian Motivasi Belajar, Fungsi Motivasi Belajar, Macam-Macam

Jika anda memiliki akun twitter dan anda sedang membukanya, So Please klik link:


Jika anda sedang membuka akun fb dan ingin mengirim alamat posting ini kedinding anda, silahkan klik jempol dibawah:





1. Pengertian Motivasi

Chalijah Hasan menjelaskan bahwa : “motivasi satu kesatuan yang merupakan dorongan individu untuk melakukan sesuatu seperti yang di inginkan atau dikehendaki”.[1]
Sebuah keluarga sakinah terutama ayah (suami) dan ibu (istri) yang memberikan motivasi kepada anak berarti menggerakan anak untuk melakukan aktivitas belajar. Sebagaimana pandangan Sadirman AM, yaitu “memberikan motivasi pada anak berarti menggerakan anak untuk melakukan sesuatu.

Pada tahap awal akan menyebabkan si subyek belajar itu merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar”.[2]

Menumbuhkan motivasi dapat dilakukan dengan cara memberitahukan bahwa belajar itu merupakan keharusan atau kewajiban bagi setiap orang Islam, sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 122.

Dengan adanya dasar yang kuat tersebut, seorang anak akan termotivasi dirinya untuk belajar, karena mengetahui belajar itu merupakan kewajiban bagi setiap umat manusia.

Sebuah keluarga yang sakinah, terutama ayah dan ibu bisa menanamkan dan menumbuhkan motivasi secara efektif. Motivasi sebagai proses mengantarkan anak kepada pengalaman-pengalaman yang memungkinkan merekan dapat belajar. Dalam keluarga sakinah akan memiliki hubungan kodrat dan kekal.

Jika sekolah menekankan perkembangan inteligensi (IQ), maka dalam keluarga seharusnya merupakan institusi perkembangan kecerdasan emosional (EQ).

Seharusnya anak mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya : “Hak anak atas orang tuanya adalah :
1. Memberi nama yang baik
2. Mengawinkan apabila telah sampai umur
3. Mengajarkan kitab (Al-Qur’an).(R.Abu Nu’aim dan Dailami dari Abu Hurairah) Dla’if.[3]

Dari uraian diatas dapat diambil pengertian bahwa di dalam keluarga sakinah motivasi belajar anak harus mendapat prioritas utama, karena motivasi merupakan kekuatan atau dorongan bathin yang mampu memperoses dan menggiatkan segala bidang aktifitas dan tingkah laku untuk memuaskan diri seseorang dengan memenuhi kebutuhannya dan mencapai harapannya.

2. Fungsi Motivasi

Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan yang berpengaruh pada aktifitas, maka fungsi motivasi menurut Sadirman AM, adalah :
1.                                                                                                                                                                   Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2.                                                                                                                                                                   Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3.                                                                                                                                                                   Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisikan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.[4]
Disamping itu motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha pencapaian prestasi seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Demikian posisi motivasi yang sangat vital, namun bukan berarti seseorang dapat mencapai hasil belajar yang baik, karena berhasil tidaknya seseorang anak dalam belajar itu tidak hanya dipengaruhi oleh motivasi saja, melainkan banyak faktor yang mempengaruhinya, hal ini sejalan dengan pendapat Ngalim Purwanto yang menjelaskan bahwa : “berhasil tidaknya belajar itu tergantung pada macam-macam faktor”.

Adapun faktor-faktor itu dapat dibedakan menjadi dua golongan :
1.                                                                                                                                                                   Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut dengan faktor individual.
2.                                                                                                                                                                   Faktor yang ada diluar individu kita sebut dengan faktor sosial. Yang termasuk faktor individual : kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi. Sedangkan yang termasuk faktor sosial antara lain : keluarga, guru dan cara mengajar, lingkungan, serta kesempatan yang tersedia didalam motivasi.[5]
Dengan melihat uraian diatas, maka dapat dipahami bahwa dengan adanya motivasi pada diri anak yang dibangkitkan melalui pemberian motivasi belajar yang cukup, baik intrinsik maupun ekstrinsik, kondisi keluarga yang menunjang yaitu ketenangan, ketentraman serta nuansa mawaddah wa rahmah serta terpenuhinya sarana dan prasarana belajar, maka kegiatan belajar terlaksana secara optimal.

3. Macam-Macam Motivasi

Motivasi diri timbul dan berkembang terdapat dalam dua dasar utama yakni : motivasi intrinsik dan ekstrinsik.

a. Motivasi Intrinsik

Menurut Sadirman AM, motivasi intrinsik adalah : “motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsi tidak perlu di rangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu”.[6]

Dengan demikian motivasi intrinsik dapat pula dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan pada suatu dorongan dalam diri dan secara mutlak terkait dengan aktivitas belajar. Sedangkan menurut Chalijah Hasan motivasi intrinik adalah : “jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain”[7]

Ada beberapa macam terbentuknya motivasi intrinsik dalam kegiatan belajar, antara lain :
1). Adanya Kebutuhan 

Menurut Ngalim Purwanto : “Tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun psikis”.[8]

Dari pendapat tersebut, bagi keluarga sakinah yang bermaksud memberikan motivasi kepada anak, maka harus berusaha mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan anak yang akan dimotivasi.

Menurut Yaumil Agoes : “memahami kebutuhan anak adalah semata-mata untuk memberi peluang pada anak memilih berbagai alternatif yang tersedia dalam suatu lingkungan yang kaya stimulasi”. [9] Berdasarkan kepada pendapat tersebut dapat dipahami bahwa orang tua harus mengetahui kebutuhan anak.

2). Adanya Cita-Cita
Selanjutnya pendorong yang mempunyai pengaruh besar adalah adanya cita-cita. Cita-cita merupakan pusat bermacam-macam kebutuhan-kebutuhan, artinya kebutuhan-kebutuhan itu biasanya direalisasikan di sekitar cita-cita itu. Sehingga cita-cita tersebut mampu memberikan energi kepada anak untuk melakukan sesuatu aktifitas belajar.

Jadi seseorang anak harus mempunyai cita-cita dan dengan cita-cita tersebut dapat meraih apa saja yang diinginkan. Selanjutnya Zakiah Daradjad menjelaskan bahwa : “Manfaat sikap-sikap cita-cita dan rasa ingin tahu anak. Pada umumnya anak-anak preadolescent dan permulaan adolesent memiliki cita-cita yang tinggi dan sering mereka memberi respon dalam bentuk kerja sama permainan, kejujuran dan karajinan”.[10]

Dari pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa perlu pemberian motivasi yang tepat terhadap anak yang belum mengetahui pentingnya belajar yang menunjang terhadap pencapaian cita-citanya. Disinilah peranan dan kontribusi keluarga di tuntut untuk memberikan motivasi, agar anak dapat melakukan perbuatan yang dapat menunjang pencapaian cita-citanya dan dalam hal ini, kontribusi keluarga sakinah pencapaian cita-cita dan dalam hal ini, kontribusi keluarga sakinah diwujudkan dengan cara menerangkan manfaat belajar, sehingga anak merasa terpanggil untuk tetap belajar secara efektif dan efisien agar dapat menggapai cita-citanya.

3) Keinginan Tentang Kemajuan Dirinya 

Di dalam proses belajar, motivasi memang memegang peranan penting. Menurut Sadirman bahwa : “melalui aktualisasi diri pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Keinginan dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan diri seseorang. Keinginan dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu”.[11]

4) Minat

Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan kalau disertai dengan minat.

b. Motivasi Ekstrinsik

Menurut Chalijah Hasan motivasi ekstrinsik adalah “jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar”.[12] Sedangkan Sadirman menyebutkan : “motivasi ekstrinsik itu adalah motif-motif yang aktif dan fungsinya karena adanya perangsang dari luar”.[13]

Motif ekstrinsik dapat pula dikatakan sebagai suatu bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar yang diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Berdasarkan pada pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi ekstrinsik itu aktif jika di rangsang dari luar dan mempunyai kontribusi besar dalam menumbuhkan motivasi ini adalah keluarga sakinah, sebagai tempat yang pertama dan utama dalam proses pendidikan. Dengan berbagai cara keluarga sakinah dapat melakukan rangsangan untuk motivasi belajar anak.

Anak didalam melakukan sesuatu aktifitas belajar seringkali mengalami kesulitan dan untuk mengatasi kesulitan tersebut keluarga sebagai pilar utama harus membantu anak dalam mengatasi kesulitan tersebut. Dengan pemberian dan penanaman motivasi kepada anak dapat menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, lepas dari ketergantungan serta tidak mudah putus asa.

Ada beberapa cara untuk menumbuhkan dan membangkitkan anak agar melakukan aktifitas belajar, diantaranya adalah :
1) Pemberian Hadiah
Hadiah merupakan alat pendidikan yang bersifat positif dan fungsinya sebagai alat pendidik represif positif. Hadiah juga merupakan alat pendorong untuk belajar lebih aktif. Keluarga sakinah dapat memilih macam-macam hadiah dengan disesuaikan dengan sutuasi dan kondisi tertentu.

Motivasi dalam bentuk hadiah ini dapat membuahkan semangat belajar dalam mempelajari materi-materi pelajaran. Dan sebuah keluarga yang sakinah harus memilih waktu yang tepat, yaitu kapan hadiah tersebut akan diberikan untuk mendatangkan pengaruh positif terhadap anak.

2) Kompetensi 
Saingan atau kompetensi dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong belajar anak, baik persaingan individu maupun kelompok dalam rangka meningkatkan prestasi belajar anak. Memang unsur persaingan itu banyak digunakan dalam dunia industri dan perdagangan, tetapi sangat baik jika digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar anak.

3) Hukuman 
Hukuman merupakan pendidikan yang tidak menyenangkan, alat pendidikan yang bersifat negatif, namun demikian dapat menjadi alat motivasi atau pendorong untuk mempergiat belajar anak. Anak akan berusaha untuk mendapatkan tugas yang menjadi tanggung jawanya, agar terhindar dari hukuman.

Ishom Ahmadi menyebutkan, “Hukuman adalah termasuk alat pendidikan represif yang bertujuan menyadarkan anak didik agar melakukan hal-hal yang baik dan sesuai dengan tata aturan yang berlaku”.[14] Sebelum hukuman diberikan, hendaknya pendidikan atau orang tua mengetahui tahapan-tahapan seperti yang disebutkan oleh Ishom Ahmadi, antara lain :
a). Pemberitahuan
b). Teguran
c). Peringatan
d). Hukuman.[15]

4) Pujian 
Menurut Sadirman adalah “Bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik”.[16] Apabila anak berhasil dalam kegiatan belajar, pihak keluarga perlu memberikan pujian pada anak. Positifnya pojian tersebut dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan prestasi, akan tetapi pujian yang diberikan kepada anak tidak berlebihan.

Karena apabila terlalu sering, maka anak akan menjadi besar kepala dan manja. Oleh karena itu pujian hendaknya diberikan secara wajar saja agar menjadi motivasi bagi anak.
--------------------------------------------
DAFTAR KUTIPAN:
--------------------------------------------
[1] Chalijah Hasan, Deminsi- deminsi Psikologi Pendidikan, Surabaya : Al-Ikhlas,1994, hlm. 42
[2] Sadirman AM, Loc, Cit., hlm 75-76
[3] Nadjih Ahjat (Penerjemah), Terjemahan Al-Jami’us Shagier Juz 2, Surabaya : PT Bina Ilmu, 1985 hlm. 477
[4] Sadirman AM, OP. CIT., hlm. 83
[5] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2002, hlm. 102
[6] Sadirman AM, Op. Cit., hlm. 87
[7] Chalijah Hasan, Op. Cit., hlm. 145
[8] Ngalim Purwanto, Op. Cit.,hlm. 77
[9] Yaumil Agoes, Peranan Keluarga Dalam Pembinaan SDM, Jakarta : Pustaka Antara, 1993, hlm 21
[10] Zakiah Daradjad, Metode Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakara : Bumi Aksara, 1995, hlm. 144
[11] Sadirman, Op. Cit,.hlm. 85
[12] Chalijah Hasan. Loc. Cit
[13] Sadirman AM, Op. Cit,.hlm. 88
[14] Ishom Ahmadi,
[15] Ishom Ahmadi, Loc. Cit., hlm.92
[16] Sadirman, Op. Cit., hlm. 92

Sumber: http://nurmanali.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar