Jumat, 07 Oktober 2011

Mengenal Penyakit Paru Histoplasmosis

Jika anda memiliki akun twitter dan anda sedang membukanya, So Please klik link:


Jika anda sedang membuka akun fb dan ingin mengirim alamat posting ini kedinding anda, silahkan klik jempol dibawah:




img 

Tersedia pengobatan untuk histoplasmosis dalam kondisi paling parah. Namun, terapi pada histoplasmosis dapat menyebabkan efek samping yang serius dan biasanya melibatkan perawatan di rumah sakit yang cukup lama.

Untuk alasan ini, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah harus menghindari paparan histoplasmosis.


Penyebab dari histoplasmosis adalah terpaparnya seseorang oleh jamur yang diberi nama Histoplasma capsulatum. Jamur ini terutama sering berada pada kandang ayam dan merpati, lumbung tua, taman dan gua yang merupakan tanah basah yang kaya bahan organik, terutama kotoran dari burung dan kelelawar.

Suhu tubuh burung yang terlalu tinggi, menyebabkan burung tidak dapat terinfeksi dengan histoplasmosis, namun burung dapat membawa H. capsulatum di bulu mereka. Selain itu, kotoran burung dapat mendukung pertumbuhan jamur.

Kelelawar memiliki suhu tubuh lebih rendah dan dapat terinfeksi, namun seseorang tidak dapat terjangkit penyakit ini dari kelelawar atau dari orang lain.

Ketika seseorang menghirup sel-sel reproduksi (spora) dari jamur, maka dapat terkena histoplasmosis. Spora ini sangat ringan, sehingga kotoran atau bahan terkontaminasi lainnya dapat mengapung di udara dan terhirup oleh manusia.

Penyakit ini biasanya terjadi pada orang yang tinggal di dekat tanah basah yang kaya bahan organik, serta petani, dan pekerja konstruksi.

Gejala

Gejala histoplasmosis dapat mulai dari ringan hingga mengancam nyawa. Meskipun bentuk yang paling ringan tidak menyebabkan tanda atau gejala, masalah serius di seluruh tubuh dan di paru-paru dapat disebabkan oleh infeksi yang parah dari penyakit ini.

Infeksi yang parah dari penyakit ini biasanya terjadi ketika tanda dan gejala muncul, gejala muncul sekitar 3-17 hari setelah paparan awal.

Gejala ringan hingga sedang:

a. Histoplasmosis primer tanpa gejala
Bentuk paling umum dari histoplasmosis adalah histoplasmosis primer tanpa gejala, yang tidak menimbulkan tanda atau gejala pada orang sehat yang terinfeksi. Bekas luka atau benjolan kecil di paru-paru bisa jadi hanya tanda infeksi. Dalam hal ini, tes radiologis khusus biasanya dapat mengkonfirmasi bahwa benjolan tersebut bukanlah kanker.

b. Histoplasmosis akut dengan gejala paru-paru
Biasanya, bentuk penyakit ini terjadi pada orang sehat yang memiliki paparan terus-menerus dari H. capsulatum. Reaksi ini dapat terjadi dengan periode singkat. Penyakit serius karena keparahan penyakit tergantung pada jumlah spora jamur yang dihirup.

Beberapa tanda dan gejala yang biasa terjadi, antara lain:
1. Berkeringat
2. Menggigil
3. Sakit kepala
4. Nyeri dada
5. Demam
6. Berat badan turun
7. Batuk kering

Dalam beberapa kasus, beberapa minggu atau bulan setelah infeksi awal, pasien dapat mengalami arthritis atau perikarditis. Perikarditis merupakan peradangan pada kantung yang melingkupi jantung.

Masalah ini bukan tanda bahwa infeksi telah menyebar di luar paru-paru. Infeksi berkembang karena sistem kekebalan tubuh pasien merespon jamur dalam jumlah yang tidak biasa dengan peradangan.

Di sisi lain, ketika orang menghirup sejumlah besar spora, dapat berkembang menjadi sindrom paru akut. Sindrom paru akut merupakan sindrom yang berpotensi mengancam nyawa karena pasien akan mengalami kesulitan bernapas.

Gejala sedang hingga berat

Histoplasmosis paru kronis
Orang dengan penyakit paru-paru seperti emfisema biasanya dapat berkembang menjadi histoplasmosis. Bila penyakit ini dibiarkan tidak diobati, bisa berkembang menjadi gangguan yang parah pada paru-paru.

Beberapa tanda-tanda dan gejala mungkin termasuk:
1. Berkeringat pada malam hari
2. Kelelahan
3. Batuk darah
4. Demam

b. Histoplasmosis diseminata
Penyakit ini dapat mempengaruhi hampir semua bagian tubuh, termasuk mata, sumsum tulang, saluran usus, hati, kelenjar adrenal, dan kulit. Penyakit ini biasanya terjadi pada bayi dan orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Dalam kebanyakan kasus, histoplasmosis yang tidak diobati dapat menjadi fatal.

Berdasarkan organ yang dipengaruhi, gejala yang dapat terjadi, antara lain:
1. Meningitis
2. Anemia
3. Luka pada mulut, lidah atau saluran usus
4. Perikarditis
5. Adrenal insufisiensi
6. Pneumonia

Pengobatan

Biasanya pengobatn tidak diperlukan bagi pasien yang terkena histoplasmosis akut ringan. Namun, seseorang kemungkinan besar akan membutuhkan pengobatan dengan satu atau lebih obat anti jamur dalam kasus yang lebih parah, atau jika memiliki bentuk kronis dari penyakit ini.

Jenis penyakit, tingkat keparahan dan kesehatan keseluruhan pasien akan menentukan obat tertentu dan lamanya masa pengobatan. Amfoterisin B dan itraconazole adalah dua contoh dari obat antijamur yang umum digunakan.

Biasanya, pengobatan awal yang menjadi pilihan bagi pasien histoplasmosis diseminata atau kondisi histoplasmosis parah lainnya adalah salah satu dari beberapa formulasi amfoterisin B.

Namun, tergantung bagaimana kondisi pasien akan membaik, pasien akan diberikan itrakonazol dalam beberapa hari hingga minggu karena obat ini dapat menjadi racun bagi ginjal dan harus diberikan secara intravena.

Pada kasus pasien yang memiliki penyakit pernapasan parah dan kesulitan mempertahankan kadar oksigen dalam aliran darah, pasien ini juga dapat diberikan kortikosteroid.

Dalam kasus-kasus ringan hitoplasmosis, itrakonazol dapat juga efektif. Itrakonazol bisa diberikan dalam bentuk pil dan akan memiliki sedikit efek samping, namun obat ini tidak bekerja secepat amfoterisin B.

Pasien mungkin mengalami sakit kepala, pusing, mual, muntah atau diare saat menggunakan obat ini, tapi seiring waktu gejala tersebut biasanya hilang. Pasien harus dipantau selama pengobatan pada kasus pasien yang memiliki riwayat gangguan hati atau ginjal, paru-paru, atau penyakit lain.

Pasien dapat diresepkan flukonazol, yang merupakan obat antijamur, apabila pasien tidak dapat mentolerir itrakonazol. Namun, pasien lebih mungkin untuk mengalami kekambuhan dengan flukonazol, dan obat ini tidak seefektif itrakonazol.

Sumber: detikhealth Sumber: http://nurmanali.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar