Selasa, 15 November 2011

Bahaya Jika Sering Memuji Kecantikan Anak !

Jika anda memiliki akun twitter dan anda sedang membukanya, So Please klik link:


Jika anda sedang membuka akun fb dan ingin mengirim alamat posting ini kedinding anda, silahkan klik jempol dibawah:




Memang tak ada salahnya Anda memuji kecantikan si kecil, tapi, puji juga sifat-sifat baiknya yang lain.Setiap orangtua pasti menganggap anaknya cantik atau tampan. Diyakini pula, untuk memberikan kepercayaan dirinya, kita harus sering-sering memuji kecantikan atau penampilan anak. 

Namun, menurut Lisa Bloom, penulis buku Think: Straight Talk For Women To Stay Smart In A Dumbed-Down World, puja-puji kita tentang penampilan anak akan memberikan pesan merugikan bagi mereka.

Dengan selalu memuji penampilan, menurut Bloom, kita menyampaikan bahwa penampilan adalah segala-galanya. Sikap memuja penampilan ini juga akan memicu meningkatnya isu psikologis yang disebabkan oleh kultur kita yang terobsesi dengan penampilan. 

Ia menyarankan untuk mengontrol keinginan kita untuk melontarkan puja-puji tersebut. Sebab, apa yang kita kira akan mendorong kepercayaan diri ternyata justru akan mengacaukan persepsi anak perempuan mengenai dirinya.

Anda tidak percaya dengan pandangan Bloom? Sebuah survei yang diadakan Girl Guiding UK belum lama ini mendapati bahwa enam dari 10 anak berusia 8-12 tahun merasa lebih bahagia bila mereka lebih kurus. Bahkan, anak perempuan di bawah 10 tahun sudah sering mengaitkan kebahagiaan dengan citra tubuh mereka.

Lebih mengejutkan lagi, jumlah remaja yang menjalani operasi pembesaran payudara meningkat hingga 150 persen setiap tahun!

Memang tak ada salahnya Anda memuji kecantikan si kecil, entah karena ia memang cantik atau karena ingin menaikkan kepercayaan dirinya. Sebagai ibunya, Anda juga berhak mendandaninya secantik mungkin. Psikolog Susie Orbach mengatakan, kita bisa menambahkan sisi positif dari dirinya yang lain.

"Ketika orang lain memuji anak Anda, 'Aduh, cantiknya', Anda bisa menyetujuinya, dan menambahkan bahwa ia juga pintar berolahraga atau bermain musik," tutur penulis buku Fat Is A Feminist Issue ini. "Atau, sampaikan juga aspek dari karakternya sehingga kecantikan itu tidak lagi menjadi yang utama."
Sumber: http://nurmanali.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar